MANADO, UMMA – Memilih perguruan tinggi tidak selalu hanya tentang program studi, tetapi juga tentang lingkungan yang dapat mendukung seseorang untuk berkembang. Hal tersebut dirasakan Viani Lulage, mahasiswa semester 1 Program Studi S1 Kebidanan Universitas Muhammadiyah Manado (UMMA) asal Kabupaten Kepulauan Talaud.
Sebagai mahasiswa non-Muslim, Viani memilih UMMA karena melihat adanya kesesuaian antara nilai-nilai yang diajarkan di lingkungan Muhammadiyah dengan etika profesi kebidanan. Menurutnya, nilai kejujuran, amanah, empati, dan pelayanan tanpa pamrih merupakan nilai universal yang relevan dengan bidang yang dipilihnya.
Ketertarikan Viani terhadap kebidanan mulai tumbuh sejak bersekolah di SMA Negeri 1 Pulau Marampit. Ia merasa bidang kebidanan sesuai dengan minat dan kemampuannya serta dapat menjadi jalan untuk mengembangkan diri dan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan cita-citanya di masa depan.
Viani pertama kali mengetahui UMMA dari saudaranya. Setelah mengetahui program studi yang tersedia, ia kemudian menjadikan UMMA sebagai pilihan untuk melanjutkan pendidikan karena program studi yang dipilihnya dinilai sesuai dengan minat dan cita-citanya.
Keputusan untuk berkuliah di perguruan tinggi berbasis Islam tersebut juga tidak menjadi persoalan bagi Viani. Ia justru melihat perbedaan latar belakang agama sebagai kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan belajar menghargai satu sama lain.

“Saya tertarik untuk mendapatkan pengalaman belajar di lingkungan yang mengajarkan nilai-nilai seperti kedisiplinan, toleransi, dan saling menghargai. Bagi saya, perbedaan agama bukan menjadi penghalang untuk menuntut ilmu, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar menghargai dan memahami satu sama lain,” ujar Viani.
Dukungan juga datang dari keluarga. Viani mengatakan keluarganya merespons dengan baik ketika ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di UMMA.
Setelah menjadi bagian dari sivitas akademika UMMA, Viani mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dalam proses belajar maupun berinteraksi di lingkungan kampus. Ia juga merasa nyaman berinteraksi dengan teman-teman dan mendapatkan ruang untuk berkembang sebagai mahasiswa non-Muslim.
“Pengalaman saya dengan teman-teman di kampus cukup baik dan menyenangkan,” ungkapnya.
Bagi Viani, salah satu pengalaman yang paling berkesan selama menjalani perkuliahan adalah kesempatan untuk bertemu dan belajar bersama teman-teman dengan latar belakang yang beragam. Dari pengalaman tersebut, ia belajar menghargai perbedaan agama, budaya, maupun karakter setiap individu.
Dalam menjalani perkuliahan, Viani berupaya mengembangkan kemampuan dengan mengikuti proses pembelajaran secara aktif, menyelesaikan tugas dengan baik, serta belajar dari dosen dan teman-teman. Ia juga menyebut kesempatan menjadi mahasiswa UMMA sebagai salah satu pencapaian yang dibanggakannya karena memberinya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Seiring menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, pandangan Viani terhadap UMMA semakin berkembang. Ia memandang bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk belajar, berteman, dan bekerja sama.
Menurut Viani, lingkungan yang mendorong sikap saling menghargai dan toleransi menjadi salah satu hal yang membuat UMMA menarik bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Ke depan, Viani berharap dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik dan menjadi pribadi yang lebih mandiri serta percaya diri, sekaligus memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidang kebidanan yang dipelajarinya.
Ia juga berharap UMMA terus menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman, terbuka, dan inklusif bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang.
Kepada calon mahasiswa yang masih ragu memilih UMMA karena merupakan perguruan tinggi berbasis Islam, Viani berpesan agar tidak terburu-buru menilai sebelum mengenal lingkungan kampus lebih jauh.
“Jangan takut mengenal UMMA lebih jauh. Menurut saya, lingkungan yang berbasis Islam bukan berarti membatasi mahasiswa dari berbagai latar belakang, tetapi justru mengajarkan nilai-nilai kebaikan, toleransi, kedisiplinan, dan saling menghargai,” tutupnya.