Keren, Dosen UMMA Sulap Limbah Kulit Kakao jadi Bahan Sunscreen

MANADO, UMMA – Limbah kulit kakao yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal mulai dikembangkan menjadi bahan aktif untuk produk kosmetik pelindung kulit oleh dosen Universitas Muhammadiyah Manado (UMMA). Riset ini memanfaatkan potensi senyawa alami dalam kulit kakao yang memiliki aktivitas antioksidan dan berpotensi memberikan perlindungan terhadap radiasi ultraviolet (UV).

Penelitian tersebut dilakukan oleh Febrianika Ayu Kusumaningtyas, S.Farm., M.Farm., bersama Nadia Ayuwanda S. Akune, S.Farm., M.Farm., dosen Farmasi UMMA, serta Muhamad Fauzi Ramadhan, S.Farm., M.Farm., dosen Farmasi STIKes Serulingmas Cilacap. Penelitian ini juga melibatkan mahasiswa D3 Farmasi, Zalfa Chelin Yosadi.

Febrianika menjelaskan, fokus utama penelitian adalah memanfaatkan limbah kulit kakao yang melimpah tetapi belum memiliki nilai ekonomi optimal. Kulit kakao diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan sehingga berpotensi dikembangkan sebagai bahan alam dalam produk kosmetik pelindung kulit.

“Inovasi yang ingin saya hasilkan adalah produk kosmetik pelindung berbasis zat aktif dari bahan alam, dengan minimal ingredients dan optimal activity,” jelas Febrianika.

Pemilihan kulit kakao juga didukung oleh ketersediaan bahan baku di Indonesia. Limbah yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Desa Tutuyan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Sebelumnya, penelitian juga menggunakan limbah kulit kakao yang berasal dari Desa Tombolikat dan Kotamobagu.

Secara keseluruhan, penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia dan Laboratorium Teknologi Farmasi UMMA. Penyusunan konsep dan proposal penelitian dimulai pada November 2025 hingga Januari 2026, kemudian pelaksanaan riset berlangsung mulai April 2026 dan selesai secara keseluruhan pada awal September 2026.

Dalam prosesnya, limbah kulit kakao terlebih dahulu melalui serangkaian tahapan ekstraksi hingga menghasilkan ekstrak pekat bebas etanol. Ekstrak Kulit Kakao (EKK) kemudian diidentifikasi kandungan fenoliknya secara kualitatif dan ditentukan kadar total fenolik melalui modifikasi metode Folin-Ciocalteu.

Pengujian juga dilakukan untuk melihat aktivitas antioksidan EKK menggunakan metode DPPH, FRAP, dan ABTS secara in vitro. Sementara itu, potensi perlindungan terhadap sinar UV diuji melalui penentuan nilai Sun Protection Factor (SPF) menggunakan spektrofotometer UV-Vis.

Selanjutnya, EKK diinkorporasikan ke dalam basis emulsi dengan beberapa konsentrasi. Produk yang dihasilkan kemudian dievaluasi, mulai dari karakteristik fisik hingga stabilitasnya, termasuk pengujian nilai SPF secara in vitro.

Menurut Febrianika, salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah telah diperolehnya pembuktian mengenai kandungan senyawa dalam EKK beserta aktivitas farmakologisnya secara in vitro, serta tersedianya data mengenai inkorporasi EKK ke dalam basis emulsi.

Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap pengembangan. Saat ini, tim peneliti tengah menyusun artikel untuk dipublikasikan pada jurnal bereputasi dan terindeks nasional.

“Tantangan terbesar yang saya alami adalah keterbatasan alat dan bahan di Kota Manado,” ungkapnya.

Ke depan, hasil penelitian diharapkan tidak hanya berhenti pada pengembangan bahan aktif kosmetik, tetapi juga dapat diarahkan pada pemanfaatan limbah kakao berbasis zero waste dan peningkatan ekonomi sirkuler. Pemanfaatan tersebut dapat dikembangkan melalui kerja sama perguruan tinggi dengan pemerintah daerah maupun petani kakao, termasuk melalui kegiatan KKN dan pengabdian kepada masyarakat.

Febrianika juga berharap penelitian dapat dilanjutkan melalui pengembangan metode green extraction yang lebih ramah lingkungan, formulasi produk kosmetik berbasis ekstrak kulit kakao, serta pengujian aktivitas farmakologis lainnya.

Dengan demikian, limbah kulit kakao dari wilayah penghasil kakao seperti Bolaang Mongondow Timur tidak hanya dipandang sebagai sisa perkebunan, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi bahan bernilai tambah sekaligus mendukung penerapan prinsip keberlanjutan.