Kisah Fahri, Alumnus UMMA yang Jalankan Misi Kemanusiaan di NTT meski RSUD Rusak

NAGEKEO, NTT – Alumni Universitas Muhammadiyah Manado (UMMA), Ns. Muhamat Fahri Duwila, S.Kep., menjalankan tugas kemanusiaan sebagai tenaga kesehatan yang ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Pusat Krisis Kesehatan di RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah kondisi fasilitas rumah sakit yang mengalami kerusakan akibat bencana, ia bersama tenaga kesehatan lainnya tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan memanfaatkan tenda lapangan sebagai fasilitas pelayanan sementara.

Penugasan tersebut berlangsung pada 11-24 September 2026. Ns. Muhamat Fahri Duwila, S.Kep. ditugaskan dalam bidang keperawatan dan ditempatkan di ruang Intensive Care Unit (ICU).

Untuk mendapatkan penugasan dari Kementerian Kesehatan, relawan harus terdaftar sebagai anggota Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Pusat Krisis Kesehatan RI. Penugasan tersebut kemudian diperkuat melalui surat pemanggilan dari Kementerian Kesehatan dan surat tugas dari Universitas Muhammadiyah Manado.

Kondisi RSUD Aeramo yang mengalami kerusakan membuat seluruh pelayanan kesehatan sementara dilakukan menggunakan tenda lapangan. Kondisi tersebut menyebabkan pelayanan harus dilakukan dengan fasilitas yang terbatas, termasuk menghadapi suhu tenda yang cukup panas.

“Untuk saat ini seluruh pelayanan di RSUD Aeramo dilakukan di tenda lapangan disebabkan oleh bangunan yang mengalami kerusakan sehingga tidak bisa untuk dilakukan pelayanan dalam gedung,” ujar Ns. Muhamat Fahri Duwila, S.Kep.

Menurutnya, kondisi tersebut turut menimbulkan keluhan dari pasien maupun keluarga pasien terkait kondisi ruangan yang panas. Meski demikian, pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan menyesuaikan keadaan dan fasilitas yang tersedia.

Tantangan lain juga dialami dalam perjalanan menuju lokasi penugasan. Perjalanan darat dari Bandara Labuan Bajo menuju Kabupaten Nagekeo memakan waktu sekitar 21 jam, lebih lama dari perkiraan awal karena keterbatasan bahan bakar dan kerusakan kendaraan.

Dalam pelaksanaan tugas, tim tenaga kesehatan mendapatkan koordinasi dari PIC Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, yang berkoordinasi dengan pemerintah dari tingkat pusat hingga daerah serta pihak di lokasi penugasan.

Bagi Ns. Muhamat Fahri Duwila, penugasan tersebut menjadi pengalaman kemanusiaan yang sangat berharga. Ia mengaku terkesan melihat tenaga kesehatan setempat tetap memberikan pelayanan meskipun berada dalam situasi yang juga terdampak bencana.

“Penugasan ini sangat berarti bagi saya karena ini adalah tugas kemanusiaan. Tidak semua orang dapat merasakan kesedihan masyarakat yang mengalami musibah secara langsung dan ini adalah pengalaman yang paling berharga,” ungkapnya.

Ia berharap fasilitas bangunan dan pelayanan RSUD Aeramo dapat segera diperbaiki sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara maksimal. Ia juga berharap seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di RSUD Aeramo diberikan ketabahan untuk terus melayani masyarakat dengan sepenuh hati.

“Mari sama-sama kita melihat sekitar dan peduli lagi dengan keadaan dan situasi yang dialami oleh saudara-saudara kita yang mengalami musibah, apapun itu.”