MANADO, UMMA – Dua mahasiswa Universitas Muhammadiyah Manado (UMMA), Firna A. Dahlan dan Satrio Lasimpala, dipercaya mengemban amanah dalam kepengurusan Pengurus Pusat Dewan Perwakilan Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Indonesia (PP DPM PTMAI) tingkat nasional. Keduanya resmi dikukuhkan dalam rangkaian kegiatan PP DPM PTMAI di Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB), 29 Agustus 2026.
Firna A. Dahlan dipercaya sebagai Wakil Ketua Komisi Bidang Media dan Propaganda PP DPM PTMAI. Kepercayaan tersebut tidak terlepas dari pengalaman Firna yang sebelumnya aktif di DPM UMMA dan mengemban amanah sebagai Ketua Komisi IV.
“Saya sebelumnya aktif di DPM UMMA dan mendapat amanah sebagai Ketua Komisi IV. Dari pengalaman tersebut, saya mendapat kepercayaan untuk bergabung di tingkat nasional. Bagi saya, ini menjadi kesempatan yang sangat luar biasa untuk belajar lebih luas sekaligus membawa suara mahasiswa UMMA ke tingkat nasional,” ujar Firna.
Sementara itu, Satrio Lasimpala dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat DPM PTMAI Bidang Politik, Hukum dan Kebijakan Publik. Penetapan Satrio didukung rekam jejaknya dalam organisasi mahasiswa, baik di tingkat kampus maupun regional. Ia pernah menjabat sebagai Presiden Mahasiswa dan Koordinator Daerah BEM PTMA.

Menurut Satrio, proses penetapan dilakukan melalui komunikasi, konsolidasi, pembahasan internal, serta penilaian terhadap kebutuhan kepengurusan. Ia menilai amanah tersebut menjadi tanggung jawab untuk mengawal isu politik, hukum, dan kebijakan publik yang berkaitan dengan kepentingan mahasiswa dan masyarakat.
Keterlibatan keduanya menjadi capaian tersendiri bagi UMMA sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk berkontribusi di tingkat nasional. Firna berharap kepercayaan tersebut dapat menjadi pintu bagi mahasiswa UMMA lainnya untuk berani mengambil peran lebih luas.
Satrio menegaskan akan membawa aspirasi mahasiswa UMMA melalui forum nasional, kajian, konsolidasi, dan advokasi. “Membawa nama kampus bukan hanya sekadar label nama UMMA di forum nasional, lebih dari itu, bagaimana keberadaan saya bisa menjadi jembatan antara persoalan mahasiswa di daerah dengan ruang pengambilan kebijakan di tingkat nasional,” ujarnya.